Kamis, 09 Oktober 2014

Karena Cinta Memang Seharusnya Buta





Cinta Buta.

Begitulah, keseringan quote ini bermakna negatif.
Bagi saya, benar.
Dulu saya juga mempersepsikan cinta buta itu negatif.
Tapi sekarang,
Saya fikir, cinta memang seharusnya buta.
Harus buta! Absolutely. Cinta itu wajib membutakan diri.

Saya boleh memaknainya dengan seorang gadis, yang belum mengerti cara menutup aurat,
Maka berapa waktu lamanya, dia berfashion seksi.
Celana ketat, hijab dileher terikat.

Suatu saat sang gadis menemukan hidayah,
Ia disapa oleh lembutnya kasih dari Tuhannya.
Dia tersadar, Rabbinya tengah mencucurkan cinta untuknya,
Cinta yang lembut dan melimpah.
Maka, ia memutuskan mencintai sang Rabbi.
Saat seseorang memutuskan untuk mencintai, maka pada saat itu pula ia serta merta memutuskan untuk memberi. 

Sang gadis pun berbenah diri, kini iya berhijab syar’i, berfashion longgar dan tak update.
Beberapa komentar mulai terlontarkan untuknya.
Dia mulai dikatai norak, bodoh, tidak modern, konservatif dan bla bla bla.
Apa tanggapan sang gadis?
“Sorry, saya sudah menutup mata dengan komentar orang-orang! 
Cinta ini benar-benar bikin ku buta, ntahlah, aku selalu menutup mata dengan beberapa ocehan, kadang bikin ku bosan!”
Sang gadis pun melaju dengan keputusannya, keputusan untuk mencintai Rabbnya.
membawa kebutaannya kemana-mana pada aktivitas cintanya.

Tersebut seorang pemuda,
Dia cerdas, aktivitasnya selalu mengangkatnya kepuncak prestasi. Bahkan di semester 4 dia sudah menjuarai PKM, memenangkan modal wirausaha, ipk nya wow. Dia lelaki prestisius. 

Namun, suatu saat dia tersadarkan.
Lagi-lagi sama seperti kasus si gadis.
Pemuda ini disapa lembut oleh hidayah allah.
Ia tersontak,
Apa arti semua prestasi ini, tapi tak mampu memberi arti untuk orang banyak.
Rasanya, sukses sendiri, benar-benar hampa!
Maka ia memutuskan untuk bergabung bersama komunitas dan organisasi kampus.
Dia menyibukkan diri pada aktivitas yang sama sekali tak berhubungan dengan kepentingan diri.
Agar bisa memberi manfaat melalui aksi kreatif-cerdasnya.

Ya, pada saat itu ia memutuskan untuk mencintai. Mencintai aktivitas berbagi. 
Mencintai aksi berbagi inspirasi. Mencintai kerja harmoni.
Dan jika seseorang memilih untuk mencintai, maka serta merta ia memutuskan untuk memberi.
Diumur semester ke-7, ia tak kunjung lulus. Memasuki umur semester 8, ia masih juga belum wisuda.
Padahal semua tau, dia pemuda cerdas full talenta.
Aksi kompor dari teman-teman terdekat agar ia meninggalkan “aktivitas berbagi kebaikannya” untuk sementara, agar ia fokus wisuda, sama sekali tak masuk ke hati, para teman pun hanya dikembalikan sebuah senyuman.

Ya, si pemuda sudah buta.
Terhadap segala komentar dan ocehan, benar-benar buta! Terhadap pandangan-pandangan rendah dan sepele, dia sudah buta.
Cinta memang seharusnya buta.
Karena “ketidakbutaan” baginya, hanya membuatnya ragu-ragu dan gagalfokus pada keikhlasan niat.
Pemuda ini memang sedikit terlambat. Terlambat menuju kewisudaan.
Tapi, kata siapa dia bodoh, justru dia cerdas, dia menargetkan diri fullmanfaat.
Setidaknya dia sudah meninggalkan banyak karya, baik karya kecil mungil maupun karya besar.
Dia hanya butuh sedikit waktu tambahan untuk mencapai impiannya. Impian untuk berbagi kebahagiaan. Impian untuk menjadi bagian dari golongan yang memberi arti.
Dan dia mampu mewujudkannya, karena rasa cinta. Cinta yang menggebu. Cinta yang buta.

Karena cinta memang seharusnya buta!
Begitulah, saat kita memutuskan untuk mencintai, jalani cinta dengan kebutaan!
Karena ketidakbutaan hanya menjadikan kita ragu dan gagal fokus.

Salam positif!
@BEM Unsyiah, 9 oktober 2014


Kamis, 02 Oktober 2014

How to Get What You Want??


Pernah baca buku “Softskill to Get What You Want” karya Richard Templar??

Belum?
Ok. Berikut beberapa potongan kata dari beliau:
  • "Orang yang selalu mendapatkan apa yang ia mau adalah orang yang beruntung..benarkah? saya tidak yakin dia benar-benar beruntung!"
  • "Apa perbedaan antara orang-orang yang selalu tampak berhasil mencapai tujuannya dan orang yang sulit mencapai tujuannya??"
  • "Anda akan melihat bahwa beberapa orang mengetahui cara mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan, sementara beberapa orang lainnya tidak".
  • "Beruntung?? Keberuntungan tidak ada hubungannya dengan hal ini, saya telah merencanakannya! Ya. Keberuntungan yang direncanakan!"
  • "Ini adalah tentang mengetahui dengan JELAS apa yang anda inginkan, lalu mengetahui cara untuk mendapatkannya".
  • "Mengapa anda tidak meminta? mengapa tidak meminta tolong? [karena tidak percaya dirikah? karena anda takut ditolak? Karena merasa tidak nyaman menyampaikan apa yang anda butuhkan?]"
  • "Look! Jika anda memainkan peran anda dengan benar, seringkali tidak perlu meminta secara langsung apa yang anda inginkan. Gunakan:Pemikiran dan Perencanaan!"
  • "The important thing is [anda membuat orang lain melihat anda sebagai orang yang ingin mereka bantu dan mereka dukung]"
  • "Jika anda orang yang disukai dan positif, mengapa ada orang lain yang mengatakan tidak dan menolak??"
  • "Biasakan diri anda untuk mendapatkan semua apa yang anda inginkan! semua! semuanya!"

Untuk mencapai cita dan visi, anda butuh “support system” dalam menjalankan misi!
Karena anda tak kan mungkin mencapainya sendiri!
Bersama kita bisa! Sendiri, kita bisa apa?
Mari kita saling memanfaatkan! 
Anda membuka diri dan bersedia untuk dimanfaatkan oleh siapa saja! dan anda pun tak segan memanfaatkan mereka!

Bukankah sebaik-baik manusia ialah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain? kenapa harus enggan menolong orang lain untuk mencapai tujuannya? bukankah balasan pertolongan dari allah lebih mengejutkan?
Jika anda saling memanfaatkan dengan fikiran negatif, tentu anda jarang mencapai tujuan anda, karena itu adalah hal yang tidak berkah.
Mari kita saling memanfaatkan dengan cara fikir positif, visi dan niat kita melangit!

Sensasi sombong tidak dibutuhkan, anda merasa semua bisa dicapai sendiri. 
Alias merasa mandiri.
Jangan minder, tak perlu takut bermimpi. 
Takut meminta tolong.
Takut bertanya kesediaan orang lain untuk membantu anda mendapatkan apa yang anda mau.
Takut ini, takut itu. Takut ditolak. 
Takut dianggap penjilat. Takut dianggap sokkenalsokdekat. dsb

Anda tak perlu takut terhadap apapun! Karena tak akan terjadi apa-apa!
Tenanglah. Keep calm. Mencoba dengan visi melangit, nilainya berkah.
Berimajinasilah, bahwa akan terjadi hal-hal positif. 
Bukan sebaliknya, anda membayangkan hal-hal negatif, karena keseringan yang anda bayangkan, akan kejadian.

Begitulah, beberapa softskill yang dishare oleh Richard Templar,  jika digunakan dengan cara yang benar (syar’i) dan untuk tujuan kebaikan pula, maka hidup anda benar-benar seru dan bergairah!


@Lambaro City,3 okt 2014

Visi Kita Melangit! Beberapa Misi Kita "Done"!

Dimulai dengan Matriks. 
Beberapa “DONE”!  
(Refleksi 5 bulan membersamai Kementerian Luar Universitas BEM Unsyiah 2014)

Matriks.
Matriks itu excel. Excel itu media. Media memudahkan kita ber_matriks_ria.
Matriks mendekatkan kita pada cita dan cinta. 

Korea.
Sepulang darinya, bertolak ke SMA 3 untuk Program Pelatihan Lapangan bagi calon guru.
Dengan segala ambisi, bertekad menyelesaikan skripsi.
Akhir tahun, beberapa kesempatan magister menanti.
Rupanya...
 obsesi tak berjodoh kehendak sang Rabbi.

Haluanpun berputar. Ambisipun berganti.
April, 2014
Berjodoh dengan BEM Unsyiah, menggantikan adinda Siti.
Kementerian Luar Universitas, itulah nama jodoh tempat berlabuh beberapa visi.
Misipun di breakdown.
Bersama Raiyan Fajrul dan Jamal Anshari, plus adik-adik para staf yang baik hati,
Kita formulasikan visi misi dalam selembar matriks.
Selembar? Mungkin beberapa lembar, ntahlah, tak begitu ingat.

Matriks itu excel. Excel itu media. Media memudahkan kita ber_matriks_ria.
Matriks mendekatkan kita pada cita dan cinta.
Matriks kita print. Hasilnya selembar untuk masing-masing misi.
Kita sematkan pada salah satu pojok dimading.
Biar selalu terlihat dan teringat, begitu niat kita.

Mei juni berlalu.
Kita move on. Perlahan pasti melaksanakan misi.
Juli agustus kita tapaki.
Tak ada waktu untuk rekreasi, apalagi sekedar relaksasi.
September, disini kita.
Mencuri-curi pandang..
melihat mading tempat para matriks disematkan.

Hati meukoetkoet, sesekali.
Berdebar-debar, tak sanggup melihat “the matriks”

Aha!
Lihatlah dinda!
Dear jamal dan rayyan, look at that!
Lihatlah adik..
Dear staf yang baik hati, take a minute, stare at it!
DONE! Beberapa DONE!
Our matriks, DONE! Beberapa.
Karya kecil kita, yang imut sekecil semut, dia muncul dan ada.

#Sosialisasi Komunitas ASEAN 2015
Awalnya pesimis.
AEC 2015? Tak ada yang tahu. Wawasan tentangnya aku nihil.
“Mari kita buat rangkaian kegiatan AEC kakak?” Ajakmu dinda Jamal.
“Apa itu? Ah, gak ngerti!” Ujarku
“ASEAN Economic Community” jelasmu
Akupun berkilah, bukan anak ekonomi jawabku cari-cari alasan.
Angkat tangan, aku tak mampu.
Kau pun meyakinkan, “saya juga bukan anak ekonomi kakak. Jurusan saya teknik sipil”.
Dan kau pun memaparkan, bahwa ini penting untuk kita sosialisasikan.
Pemerintah masih kurang aksi nyatanya.
Padahal kenyataannya, komunitas itu sudah didepan mata.

"Mari kita bantu pemerintah, kakak", ajakmu.
Ayuk kita belajar tentang ini.
Semangatmu yang tulus, meluluhkanku.
Maka kita pun mulai belajar tentang ini,
google kita browsing setiap pagi.
Youtube kita download.
e-book kita telan.
Maka konsep wawasan kita mulai mantap.

Teman-teman di BEM, mulai kita tulari, akan pentingnya hal ini.
Sama! Mereka awalnya pun masih membayang-bayang, apaan tu AEC? Tanya mereka.
Hingga yang kesekian kalinya, kita ajak mereka untuk sama-sama belajar.

Akhirnya semua tertular.
Wawasan kita bersama mulai mantap.
Kita memasuki tahapan selanjutnya.
Kita susun matriks kerja aksi kecil kita.
Kita hubungi kesana kemari stakeholder terkait, 
kita surati beberapa dengan bahasa inggris.
Kita susun proposal bersama. Kita bentuk tim panitia. 
Kita tanya pendapat para dosen kesana kemari.

Lihatlah dinda!

Done!
Kita berhasil menyosialisasikan ke jajaran pemerintah wilayah pantai timur Aceh, melalui kunjungan kerja yang kita lakukan selama seminggu, bermodalkan satu unit avanza yang kita pinjam sama orang.
Done!
Kita berhasil melakukan diskusi publik, di caffe, 60 orang sedikitnya, jadi tahu tentang pentingnya Komunitas 2015 ini.
Done!
Seminar nasional, di AAC, pemateri yang kece2 kita undang. Memaparkan tentang AEC secara sempurna. 500 orang dinda berhasil kita usik wawasannya tentang ini!
Done!
Kita rajin kunjungan kerja ke dinas-dinas terkait dan beberapa bank juga. Sharing-sharing dengan para pelayan masyarakat Aceh. Ya, mereka para pemimpin kita. duduk dengan mereka menjadikanku semakin menggebu bercita untuk ikutan jadi babu melanjutkan mereka. Ternyata ada bnyk problem yang harus kita fikirkan dan selesaikan untuk masa depan kejayaan rakyat aceh.

Done!
Bulan puasa, kita saweu dayah. Bertemu dengan wajah-wajah yang masih fithrah, kita buat “Ramadhan Ceria”. 6 hari mengajar, berbagi, dan seseruan bersama santri-santri TPA. Mereka lucu, dan masa depan ada digenggaman tangan mereka yang mungil.
Done!
Seluruh penduduk bem, sudah kita pengaruhi, akhirnya merekapun ikutan berwawasan tentang Komunitas ASEAN.


#Unsyiah International Club

Done!
berhasil kita dirikan.
Dimulai dengan inisiatif kakak kalian ini untuk berbagi pengalaman selama di nanggroe orang, Korea Selatan tepatnya. 
Serunya menimba pengalaman di overseas, ingin ku tularkan untuk mahasiswa2 lainnya,
Kaupun mengiyakan. 
Kau jumpai stakeholder, kau kunjungi biro, kau duduk dengan perwakilan OIA. Kita pun membangun tim. Yes. Kita sudah launching.

Dan diumur yang baru 2 bulan ini, kita memiliki 300 trainee yang siap ditraining untuk keluar negeri. Dibantu dengan adik2 yang tulus dan baik hatinya. 
Didukung para teman yang sudah berpengalaman keluar negeri pula. Ini luar biasa dinda! 

Done!
Dan beberapa karya kecil lainnya, sedikit banyak sudah kita lakukan. kecil tapi continue.
mudah-mudahan bermakna.

Berawal dari matriks dinda!
Matriks! Mendekatkan kita pada cita dan cinta.

Cinta pada pengabdian untuk negeri.

Kita masih belum selesai.
Bersabarlah. Ayuk bersama kita selesaikan dengan hati gembira.

Karena kita para babu! Babu adalah pelayan.
Kita pelayan mahasiswa unsyiah. Kita mungkin belum maksimal.

Tapi selalu berusaha untuk optimal. 
TOTALITAS adalah prinsipmu prinsipku.
Hari ini allah titipkan kita untuk melayani mahasiswa selevel unsyiah. 

Kita adalah babu rupanya.
Bilakah kita bagus selama menjadi babu ini, ku kira allah tak segan untuk menjadikan kita babu masyarakat indonesia dimasa yang akan datang. 
Ya. Para babu. Yang melayani dengan tulus.
Tak mendapatkan apa-apa itu sebuah kepastian!
Tapi balasan dari-Nya, sungguh mengejutkan!
diluar dari apa yang kita ekspetasikan! 
Allah memberi kejutan-kejutan indah dengan begitu sempurna!

Tapi jika aku lari, mengundurkan diri dari status “kebabuanku”
Aku khawatir, allah murka. Dia menyuruh kita untuk menjadi pelayan.
Dengan berbagai alasan, jika ku bilang aku tak sanggup.. atau aku tak sempat.
 Jika kemudian “Mundur” kuambil sebagai keputusan..
Ah,
Aku khawatir, dia murka, dia beri aku masalah-masalah kecil,
Bocor ban kereta, berantem dengan teman, dikhianati sahabat, ketinggalan info penting, terhambat rezki, direpeti ibu kos, hilang kunci, tersandung batu, kuku jempol lepas, sakit gigi, sakit perut, dsb
Ah,
Aku khawatir, Dia Allah menganggap ku “ini anak, Aku amanahkan jadi babu melayani mahasiswa selevel unsyiah aja tak mampu, apalagi melayani masyarakat Indonesia??? Anak ini benar-benar tidak bagus!”

Maka kekhawatiranku itu, menjadikanku bertahan pada status “kebabuanku”
4 tahun sudah, menjadi pelayan. Babu? Aku orangnya!
Karena yang kupegang, adalah anggapan-Nya tentang diriku.

Pandangan manusia, aku tak peduli!! Mereka boleh memuji atau memaki, aku tak peduli!
Pandangan-Nya? Aku benar-benar peduli. Jika aku memilih lari, aku benar-benar malu.
Malu setengah mati!

Jika sesekali aku kecewa terhadap kinerja beberapa manusia, 
maka biarlah allah yang mengobati kekecewaanku. 
Akupun tak sempurna. 
Kenapa harus menuntut beberapa manusia menjadi bagus dan sempurna??
Biarlah allah dengan lembut mengobati segala kekecewaan dihati!
Urusan kita dengan allah. Dengan pandangan allah terhadap diri kita.
Pandangan manusia? Gak ada urusan. Jaim bukan pilihan.

Inilah kita dengan segala ketidaksempurnaan mencoba melayani.
Maka kita para babu, bertahanlah!
Intip kembali matriks kita, adakah yang belum terkerjakan?
Atau adakah yang terlewati?
Beberapa juga mesti kita evaluasi dan revisi.

Kalau bukan kita, siapalagi yang mau menjatuhkan diri menjadi babu??
Tidak ada! Semua mau DiLayani! Yang mau MeLayani sulit dicari!
Semua pintar menuntut! Menuntut orang tua, menuntut pemerintah!
Generasi Solusi??
Kalau bukan kita siapa lagi??

Mari kita bervisi, menciptakan mimpi. 
Kita breakdown mimpi-mimpi kita dalam sebuah matriks.
Kita tempel ditempat yang selalu kita lihat.
Yah, matriks mendekatkan kita pada cita dan cinta.
Cinta pada negeri. Pada aktivitas berbagi.

Biarlah allah yang memberi apresiasi.
Satu apresiasi dari Nya, lebih berkah dari sejuta apresiasi yang dilayangkan manusia.

Ayuk..
Apa yang tertulis dimatriks, kita jalankan dengan total.
Karena bagi kita “TOTALITAS adalah MAHAKARYA sebuah KREATIVITAS”

@2 oktober, Refleksi membersamai BEM Unsyiah april-oktober 2014, 
Kementerian Luar Universitas






Kamis, 09 Oktober 2014

Karena Cinta Memang Seharusnya Buta





Cinta Buta.

Begitulah, keseringan quote ini bermakna negatif.
Bagi saya, benar.
Dulu saya juga mempersepsikan cinta buta itu negatif.
Tapi sekarang,
Saya fikir, cinta memang seharusnya buta.
Harus buta! Absolutely. Cinta itu wajib membutakan diri.

Saya boleh memaknainya dengan seorang gadis, yang belum mengerti cara menutup aurat,
Maka berapa waktu lamanya, dia berfashion seksi.
Celana ketat, hijab dileher terikat.

Suatu saat sang gadis menemukan hidayah,
Ia disapa oleh lembutnya kasih dari Tuhannya.
Dia tersadar, Rabbinya tengah mencucurkan cinta untuknya,
Cinta yang lembut dan melimpah.
Maka, ia memutuskan mencintai sang Rabbi.
Saat seseorang memutuskan untuk mencintai, maka pada saat itu pula ia serta merta memutuskan untuk memberi. 

Sang gadis pun berbenah diri, kini iya berhijab syar’i, berfashion longgar dan tak update.
Beberapa komentar mulai terlontarkan untuknya.
Dia mulai dikatai norak, bodoh, tidak modern, konservatif dan bla bla bla.
Apa tanggapan sang gadis?
“Sorry, saya sudah menutup mata dengan komentar orang-orang! 
Cinta ini benar-benar bikin ku buta, ntahlah, aku selalu menutup mata dengan beberapa ocehan, kadang bikin ku bosan!”
Sang gadis pun melaju dengan keputusannya, keputusan untuk mencintai Rabbnya.
membawa kebutaannya kemana-mana pada aktivitas cintanya.

Tersebut seorang pemuda,
Dia cerdas, aktivitasnya selalu mengangkatnya kepuncak prestasi. Bahkan di semester 4 dia sudah menjuarai PKM, memenangkan modal wirausaha, ipk nya wow. Dia lelaki prestisius. 

Namun, suatu saat dia tersadarkan.
Lagi-lagi sama seperti kasus si gadis.
Pemuda ini disapa lembut oleh hidayah allah.
Ia tersontak,
Apa arti semua prestasi ini, tapi tak mampu memberi arti untuk orang banyak.
Rasanya, sukses sendiri, benar-benar hampa!
Maka ia memutuskan untuk bergabung bersama komunitas dan organisasi kampus.
Dia menyibukkan diri pada aktivitas yang sama sekali tak berhubungan dengan kepentingan diri.
Agar bisa memberi manfaat melalui aksi kreatif-cerdasnya.

Ya, pada saat itu ia memutuskan untuk mencintai. Mencintai aktivitas berbagi. 
Mencintai aksi berbagi inspirasi. Mencintai kerja harmoni.
Dan jika seseorang memilih untuk mencintai, maka serta merta ia memutuskan untuk memberi.
Diumur semester ke-7, ia tak kunjung lulus. Memasuki umur semester 8, ia masih juga belum wisuda.
Padahal semua tau, dia pemuda cerdas full talenta.
Aksi kompor dari teman-teman terdekat agar ia meninggalkan “aktivitas berbagi kebaikannya” untuk sementara, agar ia fokus wisuda, sama sekali tak masuk ke hati, para teman pun hanya dikembalikan sebuah senyuman.

Ya, si pemuda sudah buta.
Terhadap segala komentar dan ocehan, benar-benar buta! Terhadap pandangan-pandangan rendah dan sepele, dia sudah buta.
Cinta memang seharusnya buta.
Karena “ketidakbutaan” baginya, hanya membuatnya ragu-ragu dan gagalfokus pada keikhlasan niat.
Pemuda ini memang sedikit terlambat. Terlambat menuju kewisudaan.
Tapi, kata siapa dia bodoh, justru dia cerdas, dia menargetkan diri fullmanfaat.
Setidaknya dia sudah meninggalkan banyak karya, baik karya kecil mungil maupun karya besar.
Dia hanya butuh sedikit waktu tambahan untuk mencapai impiannya. Impian untuk berbagi kebahagiaan. Impian untuk menjadi bagian dari golongan yang memberi arti.
Dan dia mampu mewujudkannya, karena rasa cinta. Cinta yang menggebu. Cinta yang buta.

Karena cinta memang seharusnya buta!
Begitulah, saat kita memutuskan untuk mencintai, jalani cinta dengan kebutaan!
Karena ketidakbutaan hanya menjadikan kita ragu dan gagal fokus.

Salam positif!
@BEM Unsyiah, 9 oktober 2014


Kamis, 02 Oktober 2014

How to Get What You Want??


Pernah baca buku “Softskill to Get What You Want” karya Richard Templar??

Belum?
Ok. Berikut beberapa potongan kata dari beliau:
  • "Orang yang selalu mendapatkan apa yang ia mau adalah orang yang beruntung..benarkah? saya tidak yakin dia benar-benar beruntung!"
  • "Apa perbedaan antara orang-orang yang selalu tampak berhasil mencapai tujuannya dan orang yang sulit mencapai tujuannya??"
  • "Anda akan melihat bahwa beberapa orang mengetahui cara mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan, sementara beberapa orang lainnya tidak".
  • "Beruntung?? Keberuntungan tidak ada hubungannya dengan hal ini, saya telah merencanakannya! Ya. Keberuntungan yang direncanakan!"
  • "Ini adalah tentang mengetahui dengan JELAS apa yang anda inginkan, lalu mengetahui cara untuk mendapatkannya".
  • "Mengapa anda tidak meminta? mengapa tidak meminta tolong? [karena tidak percaya dirikah? karena anda takut ditolak? Karena merasa tidak nyaman menyampaikan apa yang anda butuhkan?]"
  • "Look! Jika anda memainkan peran anda dengan benar, seringkali tidak perlu meminta secara langsung apa yang anda inginkan. Gunakan:Pemikiran dan Perencanaan!"
  • "The important thing is [anda membuat orang lain melihat anda sebagai orang yang ingin mereka bantu dan mereka dukung]"
  • "Jika anda orang yang disukai dan positif, mengapa ada orang lain yang mengatakan tidak dan menolak??"
  • "Biasakan diri anda untuk mendapatkan semua apa yang anda inginkan! semua! semuanya!"

Untuk mencapai cita dan visi, anda butuh “support system” dalam menjalankan misi!
Karena anda tak kan mungkin mencapainya sendiri!
Bersama kita bisa! Sendiri, kita bisa apa?
Mari kita saling memanfaatkan! 
Anda membuka diri dan bersedia untuk dimanfaatkan oleh siapa saja! dan anda pun tak segan memanfaatkan mereka!

Bukankah sebaik-baik manusia ialah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain? kenapa harus enggan menolong orang lain untuk mencapai tujuannya? bukankah balasan pertolongan dari allah lebih mengejutkan?
Jika anda saling memanfaatkan dengan fikiran negatif, tentu anda jarang mencapai tujuan anda, karena itu adalah hal yang tidak berkah.
Mari kita saling memanfaatkan dengan cara fikir positif, visi dan niat kita melangit!

Sensasi sombong tidak dibutuhkan, anda merasa semua bisa dicapai sendiri. 
Alias merasa mandiri.
Jangan minder, tak perlu takut bermimpi. 
Takut meminta tolong.
Takut bertanya kesediaan orang lain untuk membantu anda mendapatkan apa yang anda mau.
Takut ini, takut itu. Takut ditolak. 
Takut dianggap penjilat. Takut dianggap sokkenalsokdekat. dsb

Anda tak perlu takut terhadap apapun! Karena tak akan terjadi apa-apa!
Tenanglah. Keep calm. Mencoba dengan visi melangit, nilainya berkah.
Berimajinasilah, bahwa akan terjadi hal-hal positif. 
Bukan sebaliknya, anda membayangkan hal-hal negatif, karena keseringan yang anda bayangkan, akan kejadian.

Begitulah, beberapa softskill yang dishare oleh Richard Templar,  jika digunakan dengan cara yang benar (syar’i) dan untuk tujuan kebaikan pula, maka hidup anda benar-benar seru dan bergairah!


@Lambaro City,3 okt 2014

Visi Kita Melangit! Beberapa Misi Kita "Done"!

Dimulai dengan Matriks. 
Beberapa “DONE”!  
(Refleksi 5 bulan membersamai Kementerian Luar Universitas BEM Unsyiah 2014)

Matriks.
Matriks itu excel. Excel itu media. Media memudahkan kita ber_matriks_ria.
Matriks mendekatkan kita pada cita dan cinta. 

Korea.
Sepulang darinya, bertolak ke SMA 3 untuk Program Pelatihan Lapangan bagi calon guru.
Dengan segala ambisi, bertekad menyelesaikan skripsi.
Akhir tahun, beberapa kesempatan magister menanti.
Rupanya...
 obsesi tak berjodoh kehendak sang Rabbi.

Haluanpun berputar. Ambisipun berganti.
April, 2014
Berjodoh dengan BEM Unsyiah, menggantikan adinda Siti.
Kementerian Luar Universitas, itulah nama jodoh tempat berlabuh beberapa visi.
Misipun di breakdown.
Bersama Raiyan Fajrul dan Jamal Anshari, plus adik-adik para staf yang baik hati,
Kita formulasikan visi misi dalam selembar matriks.
Selembar? Mungkin beberapa lembar, ntahlah, tak begitu ingat.

Matriks itu excel. Excel itu media. Media memudahkan kita ber_matriks_ria.
Matriks mendekatkan kita pada cita dan cinta.
Matriks kita print. Hasilnya selembar untuk masing-masing misi.
Kita sematkan pada salah satu pojok dimading.
Biar selalu terlihat dan teringat, begitu niat kita.

Mei juni berlalu.
Kita move on. Perlahan pasti melaksanakan misi.
Juli agustus kita tapaki.
Tak ada waktu untuk rekreasi, apalagi sekedar relaksasi.
September, disini kita.
Mencuri-curi pandang..
melihat mading tempat para matriks disematkan.

Hati meukoetkoet, sesekali.
Berdebar-debar, tak sanggup melihat “the matriks”

Aha!
Lihatlah dinda!
Dear jamal dan rayyan, look at that!
Lihatlah adik..
Dear staf yang baik hati, take a minute, stare at it!
DONE! Beberapa DONE!
Our matriks, DONE! Beberapa.
Karya kecil kita, yang imut sekecil semut, dia muncul dan ada.

#Sosialisasi Komunitas ASEAN 2015
Awalnya pesimis.
AEC 2015? Tak ada yang tahu. Wawasan tentangnya aku nihil.
“Mari kita buat rangkaian kegiatan AEC kakak?” Ajakmu dinda Jamal.
“Apa itu? Ah, gak ngerti!” Ujarku
“ASEAN Economic Community” jelasmu
Akupun berkilah, bukan anak ekonomi jawabku cari-cari alasan.
Angkat tangan, aku tak mampu.
Kau pun meyakinkan, “saya juga bukan anak ekonomi kakak. Jurusan saya teknik sipil”.
Dan kau pun memaparkan, bahwa ini penting untuk kita sosialisasikan.
Pemerintah masih kurang aksi nyatanya.
Padahal kenyataannya, komunitas itu sudah didepan mata.

"Mari kita bantu pemerintah, kakak", ajakmu.
Ayuk kita belajar tentang ini.
Semangatmu yang tulus, meluluhkanku.
Maka kita pun mulai belajar tentang ini,
google kita browsing setiap pagi.
Youtube kita download.
e-book kita telan.
Maka konsep wawasan kita mulai mantap.

Teman-teman di BEM, mulai kita tulari, akan pentingnya hal ini.
Sama! Mereka awalnya pun masih membayang-bayang, apaan tu AEC? Tanya mereka.
Hingga yang kesekian kalinya, kita ajak mereka untuk sama-sama belajar.

Akhirnya semua tertular.
Wawasan kita bersama mulai mantap.
Kita memasuki tahapan selanjutnya.
Kita susun matriks kerja aksi kecil kita.
Kita hubungi kesana kemari stakeholder terkait, 
kita surati beberapa dengan bahasa inggris.
Kita susun proposal bersama. Kita bentuk tim panitia. 
Kita tanya pendapat para dosen kesana kemari.

Lihatlah dinda!

Done!
Kita berhasil menyosialisasikan ke jajaran pemerintah wilayah pantai timur Aceh, melalui kunjungan kerja yang kita lakukan selama seminggu, bermodalkan satu unit avanza yang kita pinjam sama orang.
Done!
Kita berhasil melakukan diskusi publik, di caffe, 60 orang sedikitnya, jadi tahu tentang pentingnya Komunitas 2015 ini.
Done!
Seminar nasional, di AAC, pemateri yang kece2 kita undang. Memaparkan tentang AEC secara sempurna. 500 orang dinda berhasil kita usik wawasannya tentang ini!
Done!
Kita rajin kunjungan kerja ke dinas-dinas terkait dan beberapa bank juga. Sharing-sharing dengan para pelayan masyarakat Aceh. Ya, mereka para pemimpin kita. duduk dengan mereka menjadikanku semakin menggebu bercita untuk ikutan jadi babu melanjutkan mereka. Ternyata ada bnyk problem yang harus kita fikirkan dan selesaikan untuk masa depan kejayaan rakyat aceh.

Done!
Bulan puasa, kita saweu dayah. Bertemu dengan wajah-wajah yang masih fithrah, kita buat “Ramadhan Ceria”. 6 hari mengajar, berbagi, dan seseruan bersama santri-santri TPA. Mereka lucu, dan masa depan ada digenggaman tangan mereka yang mungil.
Done!
Seluruh penduduk bem, sudah kita pengaruhi, akhirnya merekapun ikutan berwawasan tentang Komunitas ASEAN.


#Unsyiah International Club

Done!
berhasil kita dirikan.
Dimulai dengan inisiatif kakak kalian ini untuk berbagi pengalaman selama di nanggroe orang, Korea Selatan tepatnya. 
Serunya menimba pengalaman di overseas, ingin ku tularkan untuk mahasiswa2 lainnya,
Kaupun mengiyakan. 
Kau jumpai stakeholder, kau kunjungi biro, kau duduk dengan perwakilan OIA. Kita pun membangun tim. Yes. Kita sudah launching.

Dan diumur yang baru 2 bulan ini, kita memiliki 300 trainee yang siap ditraining untuk keluar negeri. Dibantu dengan adik2 yang tulus dan baik hatinya. 
Didukung para teman yang sudah berpengalaman keluar negeri pula. Ini luar biasa dinda! 

Done!
Dan beberapa karya kecil lainnya, sedikit banyak sudah kita lakukan. kecil tapi continue.
mudah-mudahan bermakna.

Berawal dari matriks dinda!
Matriks! Mendekatkan kita pada cita dan cinta.

Cinta pada pengabdian untuk negeri.

Kita masih belum selesai.
Bersabarlah. Ayuk bersama kita selesaikan dengan hati gembira.

Karena kita para babu! Babu adalah pelayan.
Kita pelayan mahasiswa unsyiah. Kita mungkin belum maksimal.

Tapi selalu berusaha untuk optimal. 
TOTALITAS adalah prinsipmu prinsipku.
Hari ini allah titipkan kita untuk melayani mahasiswa selevel unsyiah. 

Kita adalah babu rupanya.
Bilakah kita bagus selama menjadi babu ini, ku kira allah tak segan untuk menjadikan kita babu masyarakat indonesia dimasa yang akan datang. 
Ya. Para babu. Yang melayani dengan tulus.
Tak mendapatkan apa-apa itu sebuah kepastian!
Tapi balasan dari-Nya, sungguh mengejutkan!
diluar dari apa yang kita ekspetasikan! 
Allah memberi kejutan-kejutan indah dengan begitu sempurna!

Tapi jika aku lari, mengundurkan diri dari status “kebabuanku”
Aku khawatir, allah murka. Dia menyuruh kita untuk menjadi pelayan.
Dengan berbagai alasan, jika ku bilang aku tak sanggup.. atau aku tak sempat.
 Jika kemudian “Mundur” kuambil sebagai keputusan..
Ah,
Aku khawatir, dia murka, dia beri aku masalah-masalah kecil,
Bocor ban kereta, berantem dengan teman, dikhianati sahabat, ketinggalan info penting, terhambat rezki, direpeti ibu kos, hilang kunci, tersandung batu, kuku jempol lepas, sakit gigi, sakit perut, dsb
Ah,
Aku khawatir, Dia Allah menganggap ku “ini anak, Aku amanahkan jadi babu melayani mahasiswa selevel unsyiah aja tak mampu, apalagi melayani masyarakat Indonesia??? Anak ini benar-benar tidak bagus!”

Maka kekhawatiranku itu, menjadikanku bertahan pada status “kebabuanku”
4 tahun sudah, menjadi pelayan. Babu? Aku orangnya!
Karena yang kupegang, adalah anggapan-Nya tentang diriku.

Pandangan manusia, aku tak peduli!! Mereka boleh memuji atau memaki, aku tak peduli!
Pandangan-Nya? Aku benar-benar peduli. Jika aku memilih lari, aku benar-benar malu.
Malu setengah mati!

Jika sesekali aku kecewa terhadap kinerja beberapa manusia, 
maka biarlah allah yang mengobati kekecewaanku. 
Akupun tak sempurna. 
Kenapa harus menuntut beberapa manusia menjadi bagus dan sempurna??
Biarlah allah dengan lembut mengobati segala kekecewaan dihati!
Urusan kita dengan allah. Dengan pandangan allah terhadap diri kita.
Pandangan manusia? Gak ada urusan. Jaim bukan pilihan.

Inilah kita dengan segala ketidaksempurnaan mencoba melayani.
Maka kita para babu, bertahanlah!
Intip kembali matriks kita, adakah yang belum terkerjakan?
Atau adakah yang terlewati?
Beberapa juga mesti kita evaluasi dan revisi.

Kalau bukan kita, siapalagi yang mau menjatuhkan diri menjadi babu??
Tidak ada! Semua mau DiLayani! Yang mau MeLayani sulit dicari!
Semua pintar menuntut! Menuntut orang tua, menuntut pemerintah!
Generasi Solusi??
Kalau bukan kita siapa lagi??

Mari kita bervisi, menciptakan mimpi. 
Kita breakdown mimpi-mimpi kita dalam sebuah matriks.
Kita tempel ditempat yang selalu kita lihat.
Yah, matriks mendekatkan kita pada cita dan cinta.
Cinta pada negeri. Pada aktivitas berbagi.

Biarlah allah yang memberi apresiasi.
Satu apresiasi dari Nya, lebih berkah dari sejuta apresiasi yang dilayangkan manusia.

Ayuk..
Apa yang tertulis dimatriks, kita jalankan dengan total.
Karena bagi kita “TOTALITAS adalah MAHAKARYA sebuah KREATIVITAS”

@2 oktober, Refleksi membersamai BEM Unsyiah april-oktober 2014, 
Kementerian Luar Universitas