Minggu, 16 November 2014

Ketika "The Boys" Menurunkan Kacamatanya. Handsome!

           
                 
Cieeeee. Ada yang bilang handsome. Ehem.
Yup. Begitulah bagiku, adakalanya the boys itu terlihat begitu handsome.
Oho, tunggu dulu. Bukan wajahnya. Tapi karakternya.
Ini analisisis dan kesimpulan sepihak.
Bahkan, aku tak bertanya pendapat siapapun yang mengalami kejadian serupa.
Kejadian apa?
Hmmm...bukan kejadian juga sih, tapi beberapa the girls mengalaminya.
Ini merupakan fenomena ketika the boys menurunkan kacamatanya.
Disinilah letak apresiasiku setinggi-tingginya untuk mereka.
The boys dengan karakter ini, benar-benar menarik. Handsome karakternya!

Yap. Aku menemukan beberapa lelaki ketika ada keperluan dengan seorang perempuan, seperti berdiskusi membicarakan solusi masalah organisasi, atau keperluan lain, seperti menyerahkan bon/faktur belanja, dsb, mereka menurunkan kacamatanya. Lebih tepatnya, melepas kacamata mereka sesaat.
Terutama ketika kondisi memaksa harus berbicara berhadapan (yaiyalah, masak ngomong saling membelakangi, gelinya tu disini).
Awalnya melihat kejadian demikian, aku sama sekali gak ngeh. Tak berfikir apapun. 
Tapi, beberapa kali melihat fenomena itu, tak perlu menunggu waktu, otakku langsung menganalisis. 
Kenapa mereka melakukan hal “ganteng” itu??

Analisis sepihak yang kulakukan tanpa bertanya pada the boys alasan mereka, berujung kesimpulan, “mereka ingin menundukkan pandangannya” 
aha. Benar. Mungkin itu alasan mereka.
Hadeuuuuhhh. Jika lah mungkin itu alasan mereka, teduhnya tu disini.
The boys dengan tipe ini, baik ya. Mereka ingin menjaga diri. Menjaga hati.

Mungkin benar, secara ilmu ke”biologi”an, aku tahu dengan pasti alasan mereka menurunkan kacamatanya. Bagaimana prosesnya, hormon apa saja yang bekerja, aku tahu semua.
Tapi berdasar ilmu pengalaman dilapangan, beberapa the boys yang lain tidak menurunkan kacamatanya ketika berhadapan dengan seorang gadis. 
Ada 2 alasan bagiku, pertama mungkin saja mereka tidak memiliki ketertarikan apapun terhadap lawan bicaranya. Rasanya hambar dan biasa saja. Bahkan melihat wajah dan mata silawan bicarapun, mereka “tabeu/tawar/nothing happened” so, mereka tak perlu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi dengan “hati” selanjutnya. Karena mereka tahu secara pasti takkan terjadi apapun. 

Alasan kedua, minus matanya sudah terlalu tinggi, jika mereka membuka kacamata, akan timbul gejala oyong atau ketidakseimbangan tubuh. So, yaudah gak papa, biasa aja. Bagi mereka, cukup bicara biasa menggunakan logika, bukan rasa.
mereka baik ya. Apresiasi dari saya setinggi-tingginya buat mereka.

But, sangat kontra dengan para the boys, kebanyakan ladies, jika lah harus melihat laki-laki, gak ada rasa. Nothing happened. Mau secakep apapun wajah seorang laki-laki, beberapa perempuan merasa biasa saja. Tapi apa yang membuat para ladies ini bisa luluh?? 
Hadeuuuhhh, kalau masalah ini aku pun tak tahu. Bisa ditanyakan langsung kepada ladies yang hatinya pernah diluluhkan. Saya tak punya ide untuk mendeskripsikan. 
Karena secara pribadi saya sangat sulit tertarik dengan the boys. Sulit sekali. Ntahlah.

Tapi ada bagusnya juga, saya justru tak perlu repot-repot berusaha mengontrol perasaan ketika harus berkomunikasi dan memiliki beberapa urusan dengan para the boys ini. Karena ya biasa saja/tabeu/nothing happen. Kita (saya and the boys) berkomunikasi secara professional, tak perlu main hati, kita saling menghargai dan menghormati. Kita saling menginspirasi. Tidak ada emosi diantara kita. Ini benar-benar bagus dan merupakan hubungan yang baik sekali. Sempurna. Merasa nyaman, tak ada gelisah. Tak ada rindu apalagi cinta. Sebuah mahakarya hubungan kreatif yang komunikatif. Sangat inspiratif. Menyenangkan sekali bukan?

Saya justru merasa iba dengan beberapa ladies yang begitu mudah terpesona dengan karakter seorang laki-laki, kasihan mereka. Para ladies itu, ah kasihan mereka. Mungkin rasanya tak nyaman. Beberapa dari mereka bahkan merasa “aku bisa gila”. 
Tak nyaman jika the boys yang disukai ada ditempat yang sama. Tak nyaman jika harus berbicara. Tak nyaman lewat dihadapannya. Tak nyaman jika dia bertanya. Yah, mereka cuma bisa bergelisah tak nyaman membawa hati yang “meukoet-koet” kemana-mana.

Jangan seperti itu ladies, karena hanya membuatmu semakin menderita. Kau ingin memilikinya segera, tapi tak berdaya. Ingin membersamainya, tapi tak bisa. Hanya mencinta dengan begitu sempurna, sendiri didalam hati. 
Jangan seperti itu. Karena hanya akan membunuh kreativitasmu. Membatasi talent-talentmu. Kau hanya membuang-buang waktu! Jangan seperti itu ladies!

C’mon, 
Bergaullah dengan banyak karakter lintas komunitas. Yap. Lintas komunitas dengan passion yang berbeda. Kau akan mampu memahami banyak karakter. Ingat! Lintas komunitas! Bukan dibanyak komunitas tapi visi dan arah geraknya masih mirip-mirip serupa.
Selanjutnya, kau akan menemukan talent-talent barumu, kesukaan-kesukaan barumu, melejitkan kreativitasmu! Kau akan menjadi sosok multitalent girl as beauty as barbie.
Ah, ini benar-benar seru. Asik, dan nyaman sekali. 
Bahkan jika mau, yuk dicoba bergaul dengan citizen beda bahasa!

Okey, for the boys yang berusaha menjaga pandangan, saya kasih two tumbs up lahhh for you all. Really appreciate it!
For ladies, jangan suka jatuh cintlong yaaa, hahahha... stand up galz :’)
Gak ada waktu buat menikmati galau karena cinta. Cinta adalah energi. 
Energi tak bisa dihilangkan, namun bisa berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain! 
Ubah ia  menjadi sesuatu yang lebih creative dan productive.

Salam cinta
Dari kak Irma

After Unsyiah Fair 9, 17 Nov 2014




Minggu, 16 November 2014

Ketika "The Boys" Menurunkan Kacamatanya. Handsome!

           
                 
Cieeeee. Ada yang bilang handsome. Ehem.
Yup. Begitulah bagiku, adakalanya the boys itu terlihat begitu handsome.
Oho, tunggu dulu. Bukan wajahnya. Tapi karakternya.
Ini analisisis dan kesimpulan sepihak.
Bahkan, aku tak bertanya pendapat siapapun yang mengalami kejadian serupa.
Kejadian apa?
Hmmm...bukan kejadian juga sih, tapi beberapa the girls mengalaminya.
Ini merupakan fenomena ketika the boys menurunkan kacamatanya.
Disinilah letak apresiasiku setinggi-tingginya untuk mereka.
The boys dengan karakter ini, benar-benar menarik. Handsome karakternya!

Yap. Aku menemukan beberapa lelaki ketika ada keperluan dengan seorang perempuan, seperti berdiskusi membicarakan solusi masalah organisasi, atau keperluan lain, seperti menyerahkan bon/faktur belanja, dsb, mereka menurunkan kacamatanya. Lebih tepatnya, melepas kacamata mereka sesaat.
Terutama ketika kondisi memaksa harus berbicara berhadapan (yaiyalah, masak ngomong saling membelakangi, gelinya tu disini).
Awalnya melihat kejadian demikian, aku sama sekali gak ngeh. Tak berfikir apapun. 
Tapi, beberapa kali melihat fenomena itu, tak perlu menunggu waktu, otakku langsung menganalisis. 
Kenapa mereka melakukan hal “ganteng” itu??

Analisis sepihak yang kulakukan tanpa bertanya pada the boys alasan mereka, berujung kesimpulan, “mereka ingin menundukkan pandangannya” 
aha. Benar. Mungkin itu alasan mereka.
Hadeuuuuhhh. Jika lah mungkin itu alasan mereka, teduhnya tu disini.
The boys dengan tipe ini, baik ya. Mereka ingin menjaga diri. Menjaga hati.

Mungkin benar, secara ilmu ke”biologi”an, aku tahu dengan pasti alasan mereka menurunkan kacamatanya. Bagaimana prosesnya, hormon apa saja yang bekerja, aku tahu semua.
Tapi berdasar ilmu pengalaman dilapangan, beberapa the boys yang lain tidak menurunkan kacamatanya ketika berhadapan dengan seorang gadis. 
Ada 2 alasan bagiku, pertama mungkin saja mereka tidak memiliki ketertarikan apapun terhadap lawan bicaranya. Rasanya hambar dan biasa saja. Bahkan melihat wajah dan mata silawan bicarapun, mereka “tabeu/tawar/nothing happened” so, mereka tak perlu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi dengan “hati” selanjutnya. Karena mereka tahu secara pasti takkan terjadi apapun. 

Alasan kedua, minus matanya sudah terlalu tinggi, jika mereka membuka kacamata, akan timbul gejala oyong atau ketidakseimbangan tubuh. So, yaudah gak papa, biasa aja. Bagi mereka, cukup bicara biasa menggunakan logika, bukan rasa.
mereka baik ya. Apresiasi dari saya setinggi-tingginya buat mereka.

But, sangat kontra dengan para the boys, kebanyakan ladies, jika lah harus melihat laki-laki, gak ada rasa. Nothing happened. Mau secakep apapun wajah seorang laki-laki, beberapa perempuan merasa biasa saja. Tapi apa yang membuat para ladies ini bisa luluh?? 
Hadeuuuhhh, kalau masalah ini aku pun tak tahu. Bisa ditanyakan langsung kepada ladies yang hatinya pernah diluluhkan. Saya tak punya ide untuk mendeskripsikan. 
Karena secara pribadi saya sangat sulit tertarik dengan the boys. Sulit sekali. Ntahlah.

Tapi ada bagusnya juga, saya justru tak perlu repot-repot berusaha mengontrol perasaan ketika harus berkomunikasi dan memiliki beberapa urusan dengan para the boys ini. Karena ya biasa saja/tabeu/nothing happen. Kita (saya and the boys) berkomunikasi secara professional, tak perlu main hati, kita saling menghargai dan menghormati. Kita saling menginspirasi. Tidak ada emosi diantara kita. Ini benar-benar bagus dan merupakan hubungan yang baik sekali. Sempurna. Merasa nyaman, tak ada gelisah. Tak ada rindu apalagi cinta. Sebuah mahakarya hubungan kreatif yang komunikatif. Sangat inspiratif. Menyenangkan sekali bukan?

Saya justru merasa iba dengan beberapa ladies yang begitu mudah terpesona dengan karakter seorang laki-laki, kasihan mereka. Para ladies itu, ah kasihan mereka. Mungkin rasanya tak nyaman. Beberapa dari mereka bahkan merasa “aku bisa gila”. 
Tak nyaman jika the boys yang disukai ada ditempat yang sama. Tak nyaman jika harus berbicara. Tak nyaman lewat dihadapannya. Tak nyaman jika dia bertanya. Yah, mereka cuma bisa bergelisah tak nyaman membawa hati yang “meukoet-koet” kemana-mana.

Jangan seperti itu ladies, karena hanya membuatmu semakin menderita. Kau ingin memilikinya segera, tapi tak berdaya. Ingin membersamainya, tapi tak bisa. Hanya mencinta dengan begitu sempurna, sendiri didalam hati. 
Jangan seperti itu. Karena hanya akan membunuh kreativitasmu. Membatasi talent-talentmu. Kau hanya membuang-buang waktu! Jangan seperti itu ladies!

C’mon, 
Bergaullah dengan banyak karakter lintas komunitas. Yap. Lintas komunitas dengan passion yang berbeda. Kau akan mampu memahami banyak karakter. Ingat! Lintas komunitas! Bukan dibanyak komunitas tapi visi dan arah geraknya masih mirip-mirip serupa.
Selanjutnya, kau akan menemukan talent-talent barumu, kesukaan-kesukaan barumu, melejitkan kreativitasmu! Kau akan menjadi sosok multitalent girl as beauty as barbie.
Ah, ini benar-benar seru. Asik, dan nyaman sekali. 
Bahkan jika mau, yuk dicoba bergaul dengan citizen beda bahasa!

Okey, for the boys yang berusaha menjaga pandangan, saya kasih two tumbs up lahhh for you all. Really appreciate it!
For ladies, jangan suka jatuh cintlong yaaa, hahahha... stand up galz :’)
Gak ada waktu buat menikmati galau karena cinta. Cinta adalah energi. 
Energi tak bisa dihilangkan, namun bisa berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain! 
Ubah ia  menjadi sesuatu yang lebih creative dan productive.

Salam cinta
Dari kak Irma

After Unsyiah Fair 9, 17 Nov 2014